Senin, 20 Mei 2013

Datanglah Ya Roh Pembaharu (KPR. 2:22-24)

 













Ringkasan Khotbah bulan misi  


Pendahuluan
Setelah peristiwa kebangkitan,  para murid Yesus diperhadapkan pada beberapa pilihan yang sulit:
  Kembali hidup seperti sebelum mereka dipanggil dan menerima segala pengajaran dari Yesus,  atau
  Melaksanakan Amanat Agung yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebelum Ia terangkat ke surga.

Untuk memutuskan pilihan yang sulit ini, para murid (orang-orang percaya) berkumpul dan bergumul bersama di Yerusalem  untuk mengambil keputusan yang tepat.

Yesus mengerti akan pergumulan para murid pada waktu itu, Ia merasa mereka perlu dibaharui , yakni dengan mencurahkan Roh Pembaharu/Roh Kudus  atas hidup mereka.
Hasilnya, para murid mengalami pembaharuan yang luar biasa , mereka berani menyampaikan iman mereka dengan cara yang mengoncangkan seluruh dunia Romawi. 

Konteks:

Lukas sebagai penulis Kisah Para Rasul sangat menaruh perhatiannya kepada bagaimana  Agama Kristen mampu merombak dari Yerusalem sampai ke Roma. Gereja mula-mula telah dengan sangat luar biasa mengubah dunia, hal ini nampak nyata dalam  kisah para murid dan rasul-rasul seperti Paulus dll.

Bagian yang tertera merupakan khotbah Petrus kepada orang banyak – kepada para peziarah dari berbagai penjuru kekaisaran Romawi yang datang ke Yerualem – Pentakosta Yahudi. Melalui nats khotbahnya (Yoel 2:28-32), Petrus menjelaskan peristiwa yang sedang terjadi, kepada para peziarah Yahudi – pengenapan nubuat Nabi Yoel. Roh Pembaharu menyertai Khotbah Petrus – 3.000 jiwa bertobat  dan dibabtis di dalam nama Tuhan Yesus Kristus (KPR. 2:41). Mereka juga diperbaharui secara total : Bersatu, saling berbagi, bersukacita dan bergembira     bersama, dan tiap-tiap hari TUHAN menambahkan jumlah mereka (KPR. 2:42-47) 

Jadi, Roh pembaharu telah memperbaharui seluruh aspek kehidupan orang-orang percaya , sehingga mereka menjadi Agen Kerajaan Allah yang  menguncangkan dunia.

Aplikasi:
Ketika komunitas gereja kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan yang sulit, kita perlu Roh Pembaharu.

Bagaimana caranya agar Roh pembaharu itu hadir?

1. Menjadi  satu di dalam komunitas  -  komunitas orang percaya (KPR. 2:1)
Roh pembaharu tidak akan pernah hadir dan bekerja di dalam komunitas yang terpecah-pecah, terkotak-kotak, yang di dalamnya ada egoisme pribadi/kelompok dll, tetapi Roh pembaharu akan hadir dan bekerja hanya di dalam komunitas yang sehati-sepikir – komunitas yang bersatu (bnd. Ef. 4:3-7;Fil. 2:2b; 4:2b)

2. Berani mempertanggungjawabkan iman (KPR. 2:5-40)
Mempertanggungjawabkan iman adalah tugas orang-orang percaya. Jangan takut, sebab Roh pembaharu akan menolong kita dalam memberi jawab atas apa yang kita imani tersebut. 

Penutup
Kiranya Roh pembaharu itu hadir senantiasa di dalam komunitas kita, mengubahkan seluruh aspek kehidupan kita secara holistik – komunitas kita menjadi komunitas yang luar biasa yang mampu mengoncangkan Indonesia dan dunia – banyak jiwa akan Tuhan tambahkan ! Amin!




















Sabtu, 16 Juli 2011

SISI LAIN DARI SPIRITUALITAS

Beberapa pertanyaan kritis cukup menantang untuk dijawab dalam berbagai tafsir dan definisi perihal spiritualitas. Di antaranya adalah; Apakah spiritualitas perayaan hidup yang menjadi inti setiap religi mampu menjawab kekerasan teror, ketidakadilan, kemiskinan, dan penghancuran alam serta tega pembunuhan sesama manusia atas nama ideologi, kepentingan kuasa, dan keserakahan ekonomi yang mau melahap seluruhnya atas nama sistem dan strukrur?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tentu tidak semudah membalikan telapak tangan, mengingat penajaman dan penyadaran diri akan spiritulaitas merupakan yang batin, yang interior, dari setiap religi.

Inti religi kristiani misalnya, spiritualitas seringkali diartikan sebagai fanatisme beragama; sebagai suatu sikap hyper-religius yang menjalankan dan menonjolkan hidup keberagaman secara berlebihan; sebagai suatu sikap beragama secara emosional yang menyingkapkan emosi dan sentimen religius secara mencolok (misalnya dengan cara menagis, menari, berteriak, dan lainnya); sebagai upaya untuk hidup saleh dan seterusnya.

Berbagai tafsir dan definisi spiritualitas seperti inilah yang pada akhirnya membuat lingkaran penghayatan hidup dengan semangat kerohanian terpecah, antara suci sekali di ruang doa namun lain dalam aksi pasar ramai kehidupan. Makanya tidak mengherankan, ketika di luar lingkungan (pasar ramai kehidupan) gereja seringkali gagap berbicara tentang masyarakat. Akibatnya, gereja tertinggal dalam proses transformasi sosial dan cenderung tak bertanggung jawab – tanpa visi sosial. Kesalehan vertikal (kesalehan pribadi) tidak diimbangi dengan kesalehan horizontal (kesalehan sosial) yang berkembang bersama kepekaan sosial – kesalehan yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, korban dan yang tertindas.


Salah satu tafsir dan definisi tentang spiritualitas yang patut untuk dipertimbangkan adalah dimana spiritualitas kristiani merupakan ungkapan sikap hidup yang selalu berkarya, karena dengan berkarya itulah hidup kita menghidupkan orang lain serta membawakan kebaikan bagi semua orang yang pada dasarnya adalah sesama ciptaan Tuhan. Dengan perkataan lain, spiritualitas kristiani bukanlah hanya menyangkut kegiatan rohani saja, tetapi lebih penting lagi ia membuahkan hasil-hasil kegiatan konkret yang dibutuhkan manusia untuk membangun dirinya sebagai manusia yang utuh di dalam dunia ini. Dan inilah sisi lain dari spiritualitas.

Selasa, 27 Juli 2010

SISI LAIN MUKJIZAT


Mukjizat merupakan topik yang cukup paradoksial; jarang dialami, banyak dinantikan. Di kalangan Kristen, mukjizat bukan semakin ditolak namun semakin digandrungi. Meskipun demikian, di ekstrem yang lain perkembangan ilmu pengetahuan juga mendorong sekelompok orang lainnya (Kristen maupun non Kristen) untuk menolak semua hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Mukjizat seringkali dipikirkan sebagai peristiwa yang terjadi berlawanan dengan hukum alam sehingga tidak dapat diterangkan oleh akal budi dan ilmu. Peristiwa-peristiwa seperti: Laut yang tiba-tiba surut mengering, matahari yang diam tak bergeser, air yang berubah menjadi anggur, roti yang sedikit cukup untuk memberi makan ribuan orang, orang sakit sembuh dan orang mati hidup lagi, dianggap menyalahi hukum alam yang berlaku.
Menurut pandangan beberapa teolog, salah seorang naturalis yang amat berpengaruh dalam penolakannya terhadap mukjizat adalah David Hume (1711 –1776) yang merupakan seorang filsuf dan sejarawan yang juga memainkan peranan kunci dalam sejarah filsafat Barat dan Pencerahan di Skotlandia. Argumentasi penolakan Hume terhadap mujizat dapat dirangkumkan sebagai berikut: Hukum alam secara definisi adalah deskripsi dari peristiwa yang terjadi secara teratur; Mujizat secara definisi adalah peristiwa yang jarang terjadi; Bukti untuk hal yang teratur selalu lebih besar daripada yang jarang; Orang yang bijaksana selalu mendasarkan kepercayaannya pada bukti yang lebih besar; Oleh karena itu, orang yang bijaksana seharusnya tidak pernah percaya mujizat. Ringkasnya, kesaksian tentang mukjizat harus ditolak oleh orang terdidik dan berakal sehat. Menurut Martin Harun, kalau diamati dengan baik, argumen sang empiris Hume ini lebih manyangkut ketidakmungkinan untuk mengetahui mukjizat daripada ketidakmungkinan terjadinya mukjizat.

Namun di sisi lain, menurut pandangan beberapa teolog yang bebeda, kitab suci tidak tahu apa-apa mengenai alam, apalagi hukum alam. Hukum alam adalah konsep ilmiah modern. Martin Harun misalnya yang mengutip pandangan John P. Meier, (A Marginal Jew), mengatakan bahwa ide yang muncul tentang mukjizat bertentangan dengan hukum-hukum alam kurang berguna untuk memahami kisah-kisah mukjizat dalam Alkitab, sebab menurutnya, gagasan alam – apalagi alam yang berjalan menurut hukum-hukum imanen – sama sekali absen dalam Alkitab Ibrani. Kata “alam” (Phusis) baru mulai muncul dalam kitab-kitab Deuterokanonika atau Apokrifa dalam Perjanjian Baru, dan di situ pun tetap dimengerti dalam terang Perjanjian Lama, yakni sebagai dunia ciptaan yang teratur oleh firman dan hikmat Allah, dan bukan oleh hukum-hukum yang tidak dapat dilanggar. Lagi pula, dewasa ini, banyak ahli ilmu pengetahuan yang dahulunya anti dengan mukjizat, kini mengatakan bahwa yang dipercaya sebagai mukjizat tidak dapat dikesampingkan secara a priori. Bagi mereka, ada jauh lebih banyak hal dari dunia kita yang penuh rahasia ini daripada yang kita tangkap. Martin Harun memberikan contoh, misalnya dari biro medis di Lourdes atau dari International Medical Committee di Paris, tentang kasus-kasus penyakit fisik serius yang secara mendadak disembuhkan tanpa dapat dijelaskan secara medis. Laporan-laporan ilmiah itu tidak akan menyimpulkan bahwa terjadi mukjizat, tetapi diserahkan kepada umat beriman atau instansi keagamaan untuk menarik kesimpulannya.


Mukjizat juga sering terlihat dari berbagai asumsi teologis yang mengatakan bahwa dunia ini penuh dengan mujizat bagi orang-orang yang mempunyai mata untuk melihat. Dengan perkataan lain, semua tindakan-tindakan Allah tertentu yang membuat kita heran, terkejut, kagum dan terpesona adalah mujizat. Dalam hal ini, mukjizat (miracle) sama dengan pemeliharaan Allah (providence). Misalnya, bangun pagi, mendapat nilai A waktu kuliah, mendapat pekerjaan, selamat dari kecelakaan maut, sembuh dari sakit dll, adalah mujizat. Namun demikian ada asumsi lain yang mengatakan bahwa campur tangan Tuhan dalam pemeliharaan umat-Nya di setiap peristiwa kehidupan bukanlah mukjizat (miracle) melainkan pemeliharaan Allah (providence) yang meliputi kemurahan hati Tuhan (mercy). Orang-orang Kristen yang tidak membedakan antara mercy dengan miracle menjadikan kata mujizat menjadi sia-sia karena sering dipakai dalam konteks yang salah dan terlalu luas. Kebenarannya adalah mukjizat bukanlah peristiwa-peristiwa biasa.


Dewasa ini, berkembang pula asumsi teologis yang mengatakan bahwa, kisah-sisah mukjizat yang ada di dalam Alkitab dimengerti sebagai cerita-cerita yang sepenuhnya disusun oleh jemaat perdana berdasarkan cerita-cerita serupa yang beredar tentang pembuat mukjizat di dunia Yahudi dan Yunani-Romawi pada abad-abad itu. Dengan perkataan lain, mukjizat yang diceritakan di dalam Alkitab tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta sejarah. Alasanya adalah, mukjizat muncul dalam kisah Yesus yang tercatat, pertama kali pada dasawarsa kedelapan dalam Injil Markus dan kemudian pada dasawarsa kesembilan dan kesepuluh dalam Injil-injil lain. Dengan demikian, mukjizat-mukjizat tampak sebagai sebuah sumbangan dari kurun waktu itu, antara tahun 70 sampai 100 M ketika Injil-injil ditulis. Kisah- kisah ini justru adalah usaha para murid Yesus untuk mengatakan bahwa Allah yang sama yang telah menciptakan dunia ini, yang mengendalikan unsur-unsur air dan angin, yang memberi makan nenek moyang mereka di padang belantara dengan makanan dari langit dan meluputkan mereka dari kematian di Laut Merah, telah dijumpai dengan suatu cara yang sepenuhnya baru dalam kehidupan insani Yesus dari Nazaret.


Lepas dari berbagai asumsi teologis di atas, perlu disadari bahwa di dalam Alkitab, cerita-cerita mukjizat itu sering terjadi di sekitar peristiwa-peristiwa atau tokoh-tokoh tertentu saja. Umpamanya dalam kaitan dengan keluaran dari Mesir, kehidupan Elia dan Elisa, pelayanan Yesus, dan pekerjaan para rasul dalam kitab Para rasul. Sebaliknya dalam kitab para Nabi, Kitab kebijaksanaan dan surat-surat Paulus hampir tidak kita jumpai adanya mujizat. Kita juga melihat bahwa di dalam Alkitab, mujizat itu bisa dibuat oleh orang yang baik dan yang jahat, misalnya dalam cerita keluaran dari Mesir cukup banyak mujizat yang dilakukan oleh para ahli sihir Mesir melawan mujizat yang dibuat oleh Musa.


Perlu juga diingat bahwa para penulis Alkitab mengunakan peristiwa mujizat, karena pada waktu itu, kisah-kisah mukjizat jauh lebih manarik daripada khotbah, kata-kata bijak, atau gagasan-gagasan keagamaan yang baru atau asli. Kisah-kisah itu dapat terus-menerus diceritakan di sekitar api ungun pada waktu malam hari, dan dengan beberapa tambahan kisah-kisah ini akan selalu menarik dan membuat pendengar kagum. Di samping itu, kisah-kisah mukjizat adalah sarana yang mudah dan baik untuk meyakinkan para pembacanya. Hal ini dikarenakan bahasa mujizat dapat dimengerti dan ditangkap oleh semua orang pada waktu itu.


Hal lain yang perlu kita ketahui adalah, di mana para penulis Alkitab mengunakan cerita mujizat itu dalam kaitannya dengan pemberitaan yang mereka lakukan. Mereka lebih menonjolkan makna mujizat itu. Dengan perkataan lain, sebagai kisah teologis yang tujuannya menyampaikan kebenaran-kebenaran lain yang berada dalam tatanan nilai-nilai, misalnya untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral tentang hal yang baik dan hal yang jahat, hal yang benar dan hal yang salah, dan seterusnya, atau untuk menimbulkan efek dan respons pada emosi dan perilaku manusia terhadap sesuatu atau terhadap suatu figur insani tertentu yang menjadi objek-objek devosional/penyembahan keagamaan.


Pada masa kini, bahasa adikodrati abad pertama tidak saja membutakan mata kita terhadap makna Yesus, tetapi sebenarnya juga membuat gambar Yesus bagi kita tersimpang. Hal yang bukan prinsip menjadi prinsip. Yang dicari adalah Yesus yang berjalan di atas air, Yesus yang menyembuhkan orang sakit, Yesus yang memberi makan lima ribu orang, Yesus yang membangkitkan orang mati dan sebagainya. Padahal, yang menjadi pesan penulis Alkitab bukanlah pada mukjizat, tetapi kisah teologis mukjizat itu sendiri. Kisah teologis tersebut, digunakan oleh para penulis Alkitab untuk menjawab pergumulan umat dalam koteksnya masing-masing saat itu. Maka dalam konteks kita saat ini, sangat naif bila kita memaksakan apa yang bukan menjadi permasalahan atau pun pergumulan konteks kita. Pemaksaan-pemaksaan seperti inilah yang pada akhirnya menimbulkan berbagai kontroversi tentang mukjizat.


Sisi lain dari mukjizat, di mana kalau pada waktu dulu para penulis Alkitab mengunakan cerita-cerita mukjizat untuk menyampaikan kabar baik kepada setiap umat dalam konteksnya, itu mungkin karena cerita-cerita mukjizat tersebut sangat relevan dan efektif. Dalam konteks kita dewasa ini, mungkin mukjizat tidak relevan lagi untuk menjawab setiap persoalan dan pergumulan kita, tetapi Allah berbicara kepada kita dengan cara yang baru. Ia berbicara kepada kita dalam peristiwa dan masalah-masalah yang dihadapi jaman ini. Yesus dapat membantu kita mengerti suara Kebenaran. Akan tetapi akhirnya kitalah yang harus memutuskan dan bertindak.

Jumat, 25 Juni 2010

SISI LAIN DARI AGAMA


Salah satu krisis dunia yang paling mengancam sekarang ini adalah berkenaan dengan pengertian kita tentang apa itu hidup manusia dan hubungan antar sesama manusia. Tanpa pengertian yang benar tentang kedua hal tersebut, maka tidak mungkin terciptanya suatu saling percaya dan saling kerja sama yang baik antar manusia, bahkan nilai-nilai kemanusiaan pun akan terkikis dan terabaikan. Inilah sisi lain dari agama.

Fakta memperlihatkan bahwa eksistensi agama selama ini kurang ramah dengan kehidupan duniawi. Dalam sejarah umat manusia selalu dipenuhi dengan kebencian dan kekerasan. Perang antar bangsa, terorisme, pengunaan senjata kimia, dan juga pemusnahan sesama umat manusia dengan megatasnamakan agama, telah mewarnai sejarah manusia, bahkan di dalamnya termasuk pelangaran HAM dalam beragama dan dalam merefleksikan pengajaran agamanya, karena dianggap sesat, bidat serta meresahkan masyarakat. Problema kepercayaan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan dialog yang terhormat, tetapi diubah menjadi tidakan-tidakan anarkis; dengan membakar, membongkar, main hakim sendiri, merajam dan sebaginya. Agama dipahami dan disempitkan dalam politisasi kepentingan masing-masing agama, suku dan golongan, maka di sana yang terjadi bukanlah kerukunan. Dalam hal ini benarlah apa yang dikritisi oleh Marx, Freud maupun Nietzche, terhadap agama. Bagi Marx, agama adalah peninabobo masyarakat, candu yang membius hingga menghalangi proses transformasi masyarakat secara sosial, ekonomis, lantaran melarikannya ke dunia impian, searah diri pada nasib dan kepasrahan ilusif. Bagi Freud dan Nietzche, agama merupakan pelarian dan kewajiban menghadapi tantangan hidup nyata menuju ke dunia ilusi.

Agama juga dipahami tidak lebih dari usaha mencari ketenangan jiwa secara pribadi sebagai obat penyembuh penyakit, ketidakmampuan untuk menghadapi kerumitan hidup yang semakin mencekam. Sifat keagamaan seperti ini, merupakan ciri insan beragama yang tidak mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab sosial, yang menjurus pada sikap ekslusivime dan fanatisme yang terselubung. Keyakinan agama yang dianut tidak berpengaruh terhadap sikap hidup sosial bagi hidup bersama dan sangat dekat dengan kejahatan, baik secara fasif maupun secara aktif (kekerasan atas nama agama).

Dengan ini, sisi lain agama dalam kehidupan manusia adalah menentukan, karena agama itu adalah mata air kehidupan tempat manusia menemukan makna kehidupan yang terdalam, yang dapat menjadi landasan yang kokoh untuk pembentukan nilai, harkat dan martabat manusia. Agama berperan sebagai petunjuk rohani untuk mengatasi keterasingan dan dan kegersangan batiniah. Dengan demikian, agama menjadi sebuah komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian bagi manusia pada masa kini dan masa yang akan datang. Maka sudah seharusnyalah kita melihat dan mengerti maksud setiap ajaran-ajaran atau dogma dan dokrin agama, di mana ajaran agama itu diberikan Allah bukan untuk maksud pembenaran diri atau kelompok yang bermuara pada sikap fanatisme agama. Ajaran setiap agama itu diberikan agar manusia dapat mengelola hidupnya secara lebih baik, terciptanya keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi semua orang sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, walaupun mereka berlainan agama dan kepercayaan, suku dan asal-usul. Warisan agama seharusnya diterima dan dihayati untuk berbelas-kasih terhadap semua manusia dan makhluk hidup lainnya.

Prof. Dr. F.X. Mudji Sutrisno, SJ., mendefinisikan agama sebagai ekspresi atau wujud sosial dari keimanan (sikap percaya dan mengimani wahyu Tuhan yang memberi jalan kebahagiaan dan mau dihayati sebagai petunjuk-petunjuk-Nya serta mau ditaati manusia). Keimanan itu sering disebut juga sebagai religiositas: kesadaran religius untuk menghayati hidup menurut wahyu (sabda) Tuhan.

Di masa depan, ada dua fungsi agama yang mesti ditonjolkan, yaitu fungsi kritis-profetis dan fungsi pembebasan. Fungsi kritis profetis hendak mengkritik keyakinan lama dan menyadarkan nilai-nilai yang dilupakan, terutama hormat dan martabat kemanusiaan. Lalu, keberanian untuk melakukan otokritik, misalnya terhadap gejala agama yang terlalu formalis. Sementara fungsi agama sebagai pembebasan mengarah kepada semakin dihormatinya martabat manusia. Ini berarti agama berperan membuat orang lebih mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam kultur modern yang mekanistik.

Konsekuensinya: Gagal melihat agama dari sisi yang lain, maka peran agama akan semakin kurang diminati manusia modern yang merasa nyaman oleh jaminan kehidupan sekuler. Apalagi kalau agama gagal mewujudkan perdamaian dunia, eksistensi agama tidak punya arti lagi. Tujuan agama sebagai penghubung dengan Tuhan yang Maha Pengasih demi hidup damai sejahtera akan semakin kabur, sebab bagaimana mungkin agama masih mengajarkan kehidupan yang penuh damai dan persaudaraan di surga, bila agama tidak bisa mengurus kehidupan bersama di dunia ini? Begitu agama menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, agama tidak berfungsi lagi sebagai usaha untuk mendekatkan manusia pada Tuhan.

Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Mudji Sutrisno, tentang bentuk-bentuk penghayatan agama yang sejati:
a.Sikap beriman (keimanan)/religiositas yang mendalam.
b.Perbuatan kasih dan solider dengan sesama yang malang dan miskin.
c.Saling membagi pengalaman disapa Tuhan dalam “syering pengalaman Kitab Suci” atau syering kesaksian hidup di tengah masyarakat (syering tersebut dapat meneguhkan komitmen kita dan sesama).
d.Setiap agama, melangsungkan keimanan itu lewat ajaran-ajarannya yang menyangkut etika hidup (seperti perkauman, etika bisnis, etika kedokteran), pedoman mengenai ajaran sosial menyangkut keadilan dan hidup sosial politis di masyarakat.
Oleh karena itu, sisi lain dari agama perlu dihadirkan kembali sebagai mobilisator etik, spiritual, dan moral, pemberi orientasi, komunikator dan sekaligus evaluator bagi perkembangan kehidupan masyarakat di dunia modern.

Kepustakaan:

Sutrisno, Mudji, Prof. Dr. F.X., Ide-Ide Pencerahan, Jakarta: OBOR, 2004.

Tanja, Victor, Pdt., M.Th., Ph.D., Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia, Jakarta: PT BPK Gunug Mulia, 1994.

Tindage, Ruddy dan Hutabarat, Rainy MP., Teologi, Komunikasi dan Rekonsiliasi, Jakarta: Yakoma-PGI/Badan Usaha Milik Gereja, Gereja Masehi Injili di Halmahera, 2009.

Rabu, 02 Juni 2010

Dogma Adalah Monster Yang Menakutkan?



Ketika mendengar kata dogma, banyak dahi para teolog dan mahasiswa teologia akan mengkerut. Dogma telah menjadi sesuatu yang menakutkan. Dogma dianggap sebagai biang kerok pertengkaran. Maka tidak mengherankan, banyak teolog dan mahasiswa teologia yang “anti” dogma.

Kembali, kalau kita melihat istilah Dogma, istilah Yunani berarti “opini” atau “dekrit”, dari dogma (tampak benar, suatu pendapat, pikiran); dokeo (seolah-olah tampak). Dengan beberapa pengertian:

1.Suatu ajaran (doktrin, keyakinan, ideologi, pendapat) yang telah diumumkan secara resmi dan otorotatif entah oleh seorang pemimpin atau pun oleh suatu lembaga (gereja).
2.Apa yang harus dipikirkan oleh seseorang yang menerima otoritas itu tentang suatu hal khusus.
3.Dalam bentuk hakikinya, istilah ini digunakan secara filosofis.

Dilihat dari istilah di atas dan beberapa pengertian tersebut, sebenarnya istilah dogma itu luas dan kaya akan makna. Akan tetapi anehnya sangat minim sekali pemikiran yang mau melihat kedalaman makna kata tersebut. Orang cenderung berpikir instan dan relatif. Definisi dogma yang telah dibuat puluhan tahun silam, sekan-akan statis adanya.

Sebagai bagian dari disiplin ilmu teologi, kadangkala dogmatika kurang diberi perhatian oleh para teolog dan mahasiswa tertentu. Alasan mereka cukup sederhana; dogmatika atau dogmatik dapat berarti tidak kritis, bersifat apodiktik, konkulsif dan sebagainya. Ekstrimnya dikatakan : “Dogma membuat orang bertengkar”! Maka dari pada itu, apabila pemahaman terhadap dogma sudah sedemikian rupa, dogma akan menjadi batu sandungan bagi disiplin ilmu teologi lainnya.

Bila kita kaji lebih jauh lagi, seharusnya dogma itu bukanlah sesuatu yang menakutkan dan untuk dimusuhi. Dogma itu berkembang (bersifat dinamis), ia berkembang bersama-sama dengan disiplin ilmu teologi yang lain. Sebab memang sudah sepatutnya, bila biblika, historika, dan sebagainya itu berkembang, dogma juga berkembang. Akan tetapi seringkali kepincangan itu terasa sekali, bahkan dibuat-buat, seolah-oleh hanya salah satu di antaranya yang paling tepat, hebat dan logis, bahkan ilmiah. Tapi tunggu dulu!!

Coba dipikirkan baik-baik dan dalam-dalam! Berapa banyak penemuan-penemuan baru (secara khusus tulisan-tulisan ilmiah ) dalam bidang biblika, historika dan yang lainya, yang tersalurkan secara langsung ke dalam kehidupan gereja atau jemaat awam? Bukankah kalau kita mau jujur, penemuan-penemuan itu hanya sebatas “teori” saja! Ekstrimnya bisa dikatakan bahwa “hanya permainan kata belaka”! Dan celakanya lagi, hanya sampai di universitas-universitas teologi tetentu saja! Ada apa di balik semua itu? Orang Percaya berkata : “Hanya Tuhanlah Yang Tahu”!

Hemat saya, dogma itu tidak akan pernah membuat orang bertengkar, apabila penemuan-penemuan biblika, historika dan sebagainya itu tidak dipendam hanya di dalam “Tulisan-tulisan ilmiah” saja yang akhirnya menjadi pajangan sesaat, tetapi harus direalisasikan secara konkrit dalam kehidupan gereja. Bagaimana mungkin dogma dapat “dijadikan saudara” apabila ia tidak diisi dan dibaharui terus-menerus dengan penemuan-penemuan baru itu!

Definisi tentang dogma, harus juga bersifat dinamis. Sebab apabila orang hanya puas dengan definisi-definisi tentang dogma yang telah dibakukan itu, maka dogma itu menjadi sempit, kecil, kerdil dan menakutkan!

Tidak bermaksud membela dogma, tetapi mencoba melihat dogma itu dari sisi yang berbeda!

Minggu, 02 Mei 2010

Dogmatika Kristen Bersifat Statis?


Dogma Kristen bersifat statis? Pertanyaan ini bisa dijawab tidak dan juga ya. Dikatakan tidak, karena di dalam kenyataannya ada sejarah dogma. Dikatakan ya, karena sulitnya “dogma masa kini” menembus tembok-tembok kebekuan yang telah membatu – tradisi dan pengajaran gereja.

Sulit untuk menunjuk atau mengklaim dogma mana yang dikatakan statis, sebab kebanyakan gereja “telah menganut” faham dualisme (golongan Liberal atau golongan fundamental).
Ketika teolog-teolog tertentu mencoba mengkaji dan menggali dogma Kristen yang telah “dibakukan” berabad-abad, dan ternyata juga mendapatkan hasil yang “ berbeda” dengan dogma yang telah dipegang oleh gereja-gereja selama ini, bahkan bertolak belakang, teolog-teolog tersebut dikategorikan sebagai golongan liberal. Maka dengan demikian, benarlah bahwa dogma Kristen itu statis adanya.

Perkembangan teologi telah “dikerdilkan” oleh tradisi dan pengajaran gereja. Betapa tidak, seperti hal di atas tadi, disiplin ilmu teologi seperti biblika, etika, sistematika, praktika dan sebagainya, sekan-akan tidak memiliki dampak apa-apa bagi dogma Kristen. Kalaupun ada, kebanyakannya hanya digunakan sebagai alat untuk “membatukan” (memperkuat tradisi dan doktrin ) dogma gereja yang telah berakar kuat sejak dahulu kala.

Ketika ada teolog-teolog yang berani “membongkar” dogma gereja, gereja kemudian bereaksi dengan mencap liberal, sesat, mengucilkan dan memberhentikannya atas jebatan-jabatan gereja tertentu. Aneh memang kelihatannya? Gereja seakan-akan telah memiliki “satu-satunya kebenaran mutlak” di dunia ini.

Memang benar bahwa gereja harus tetap memelihara pengajaran yang sehat dan benar, yang sesuai dengan iman Kristen. Akan tetapi istilah pengajaran yang sehat, benar, dan sesuai dengan iman Kristen perlu untuk didefinisikan lagi, sehingga gereja tidak terjebak dalam definisi-definisi yang telah berabad-abad dibekukan itu.
Gereja telah merasa cukup puas dan aman ketika berada di dalam definisi-definisi yang telah dibuat berabad-abad, padahal definisi yang telah dibekukan itu akan membuat dogma gereja menjadi kecil, kerdil, eksklusif dan “fundamental.” Dalam hal ini bukan berarti nilai-nilai pengajaran dan tradisi gereja yang dibekukan itu tidak ada makna substansinya bagi kehidupan gereja masa kini, tetapi hal ini bermaksud mengajak gereja untuk mencoba keluar dari zona aman dan nyamanya tersebut.

Akhirnya, dogma gereja akan selalu bersifat statis, bila gereja tidak mau “mencairkan” diri dalam perkembangan disiplin-disiplin ilmu teologi. Akan selalu bersifat statis, apabila gereja selalu hidup dalam paham dulisme. Dinamisnya dogma jangang diukur dari faham liberal dan fundamental, tetapi “Iman yang Mencari Pengertian.”

Kamis, 08 April 2010

Patriakhal: Mendiskriminasi Perempuan? (Ditinjau dari sudut pandang Perjanjian Lama)



Oleh: Devi Siskawati
(Teman Tingkat, Semester VIII Mahasiswa STTC)



Banyak pandangan atau pendapat yang mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama kedudukan seorang perempuan tidak dianggap penting. Perempuan selalu tidak diperhitungkan keberadaannya. Kedudukan lelaki adalah superior sedangkan perempuan adalah inferior. Hal ini karena pengaruh budaya patriakhal yang dianut oleh bangsa Israel. Budaya patriakhal ini dianut dari bangsa-bangsa di sekitar Israel. Tetapi, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: apakah benar budaya patriakhal dalam Perjanjian Lama dan masyarakat Yahudi mendiskriminasi kaum perempuan? Apakah Perjanjian Lama mengabaikan perempuan? Dalam tulisan ini, penulis hendak mengajak kita untuk membuka pikiran kita supaya kita tidak berpandangan naïf terhadap kedudukan perempuan dalam Perjanjian Lama, khususnya menyangkut budaya patriakhal yang menurut pandangan banyak orang mendiskriminasi kaum perempuan. Dalam tulisan ini, penulis juga akan meneliti kebudayaan patriakhal dari bangsa-bangsa di sekitar Israel dan bangsa Israel. Penulis meneliti kebudayaan di luar Israel karena kebudayaan patriakhal yang ada di Israel merupakan hasil adopsi dari bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Budaya Patriakhal dalam Kebudayaan Bangsa-bangsa di Luar Israel.

Mesir
Kata bapa digunakan secara figuratif untuk menggambarkan hal-hal seperti ‘I was father to the child’ dan dia adalah ‘a father to orphans, a husband to widows’. Seorang pejabat harus menjadi “bapa yang baik bagi masyarakat yang dipimpinnya”. Dengan kata lain, makna bapa dalam kebudayaan Mesir adalah sebagai pemelihara atau penjaga anak-anaknya.

Mesopotamia
Sistem kekeluargaan Mesopotamia bersifat patriakal. Bahasa Akkad menggunakan kata abu (m) untuk kata bapa. Merupakan sebuah tanggung jawab ayah untuk menjadi penopang dan pelindung bagi keluarganya. Kita dapat melihat berbagai gambaran mengenai ayah yang baik di dalam pandangan orang-orang Mesopotamia. Sebagai contoh: “seorang raja sebagai pemimpin bangsa harus memperlakukan hambanya sama seperti seorang ayah memperlakukan anaknya”. Ini memberi gambaran kepada kita bahwa seorang ayah pasti melindungi anaknya.

Agama Semit Barat
Makna bapa adalah sebagai pelindung yang melindungi keluarganya.

Budaya Patriakhal dalam Kebudayaan Israel
Bentuk kemasyarakatan yang digambarkan oleh Alkitab tentang sistem politik Israel adalah sebuah sistem kekeluargaan. Sistem kekeluargaan ini dipelihara dalam bentuk silsilah. Silsilah ini tidak hanya menggambarkan hubungan darah, tetapi juga hubungan ekonomi, status sosial, dan kekuasaan yang mana dapat terlihat di dalam komunitas. Seorang ayah berfungsi untuk melindungi negerinya dan keluarganya. Seorang ayah dalam kebudayaan Israel memiliki kekuasaan untuk: mengadopsi putera atau puteri (seorang anak diakui sebagai anggota suatu kelompok/klan apabila ketika dia lahir, pemimpin klan itu menerimanya, apabila tidak, maka bidan yang membantu proses persalinan mengambilnya dan meletakkannya di tempat terbuka dan mengumumkan bahwa anak ini dapat diadopsi oleh kelompok/klan yang lain), menerima pekerja-pekerja, bernegosiasi mengenai pernikahan dan menentukan ahli waris. Selain itu, seorang ayah juga bertanggung jawab untuk mengatur anak-anaknya dan mengajarkannya tentang kasih Allah (Ul.6:7). Dalam kebudayaann Israel, ayah memiliki peranan yang sangat penting. Ayah adalah kepala rumah tangga, anak-anaknya hormat terhadap dia (Mal.1:6). Dia mengontrol anggota keluarganya yang lain seperti pengrajin mengontrol tanah liatnya (Yes.64:7). Ketika seseorang dipanggil dengan sebutan ayah, sebenarnya hendak menunjukkan otoritasnya. Misalnya saja: Naaman dipanggil dengan sebutan bapa/ayah oleh para hambanya (2 Raj.5:13), Elia dipanggil bapa oleh murid-muridnya (2 Raj 2:12). Para imam dipanggil sebagai bapa oleh komunitas kultus (Hak.18:9).


Dari tulisan ini saya mau mengajak kita untuk melihat sisi positif dari budaya patriakhal itu sendiri. Budaya patriakhal merupakan sarana kasih Allah kepada umat Israel. Kita melihat dari segi tanggung jawab para lelaki yang terdapat dalam Alkitab. Seorang lelaki atau seorang bapa memiliki tanggung jawab yang besar untuk kaum atau klannya. Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa dalam kebudayaan Israel maupun kebudayaan di luar Israel tidak ada maksud untuk mendiskriminasi perempuan. Misalnya saja dalam kebudayaan Mesopotamia: seorang ayah haruslah dapat menjadi penopang dan pelindung bagi keluarganya. Jadi, di mana letak kesalahannya? Yang salah adalah kita yang memiliki pemikiran naïf terhadap budaya patriakhal dalam Perjanjian Lama. Sekali lagi saya hendak menegaskan bahwa budaya patriakhal dalam Perjanjian Lama tidak mendiskriminasi keberanaan kaum perempuan. Saya tidak menentang kaum feminis, tetapi janganlah kita mendramatisir apa yang dirasakan oleh kkaum perempuan pada waktu itu. Kita dapat melihat dalam Perjanjian Lama, tidak ada perempuan yang komplain akan keberadaannya sebagai perempuan. Hal ini karena kaum lelaki memang melindungi kaum perempuan. Perempuan sangat diperhatikan dalam Perjanjian Lama. Kita dapat melihat bahwa seorang janda pun diperhatikan oleh masyarakat. Buktinya, dapat kita lihat dalam tahunYobel. Selain itu kita juga dapat melihat dalam perkawinan ipar (go’el). Seorang wanita yang telah ditinggal mati oleh suaminya akan dikawinkan dengan iparnya. Kita dapat melihat dalam kasus Rut dan Boas. Perempuan yang telah ditinggal mati oleh suaminya dapat menikah lagi dengan saudara laki-laki dari suaminya. Hal ini bertujuan untuk melindungi perempuan tersebut. Kaum lelaki dan perempuan adalah sama, sama-sama penting dan sama-sama saling membutuhkan. Marilah kita sama-sama saling mengisi dan jangan kita menganggap lebih superior dari yang lainnya.

Kamis, 11 Maret 2010

Sifat-Sifat Allah Dan Penderitaan Manusia


Allah dikenal oleh umat-Nya sebagai Allah Yang Mahabaik, Mahaadil, Mahakuasa, Mahapengasih, Penyayang dan sebaginya. Itulah sifat-sifat yang sering digunakan umat beragama dalam mendefinisikan imannya kepada Allah. Akan tetapi di tengah-tengah penderitaan manusia saat ini, sifat-sifat tersebut selalu dipertanyakan kembali. Ketika terjadi bencana alam, kelaparan, penindasan dan lain sebagainya, di manakah Allah?, Dia yang dikenal dan diimani dalam definisi sifat-sifat-Nya?.

Tidak jarang ketika sifat-sifat Allah tersebut dipertanyakan, banyak orang Kristen yang jatuh dalam teodice. Sifat Allah tidak boleh diganggu-gugat, dipertanyakan, sebab ada keyakinan bahwa Allah selalu benar dalam segala perbuatan-Nya. Pemahaman akan sifat Allah semacam ini membuat sebagian golongan Kristen salah dalam menanggapi segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta ini, termasuk masalah bencana alam, penindasan, ketidakadilan dan sebaginya. Dengan pemahaman seperti ini sering muncul klaim bahwa hukuman Tuhan nampak dalam kejadian-kejadian seperti bencana alam, ketidakadilan, orang yang berada dalam penderitaan tersebut adalah karena hukuman Tuhan, dan Tuhan punya maksud baik dalam penderitaan tersebut. Memahami sifat-sifat Allah seperti ini sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, malah semakin membuat penderitaan bertambah.

Ada pula teolog yang mengatakan bahwa sifat -sifat Allah itu harus dipahami sebagai ekspresi iman. Allah yang Mahabaik, Mahakuasa, Mahaadil, harus dipahami sebagai ekspresi iman orang-orang percaya. Akan tetapi ini pun masih bisa dikatakan sebagai teodice, karena kalau hanya sebatas ekspresi iman, berarti Allah abstrak, melarikan diri Allah dari tanggung jawab-Nya. Ia tidak pernah benar-benar campur tangan secara nyata dalam kehidupan umat-Nya. Maka ketika terjadi penderitaan, Allah tidak bisa digugat, sebab sifat-Nya itu hanyalah sebuah ekspresi iman. Hal ini juga sebenarnya ingin menentang filsafat Yunani yang selalu menggugat atribut-atribut Allah. Dalam filosofis Epikur (341-270 SM) diuraikan dilema antara Allah yang Mahabaik, Mahakuasa, dan adanya Allah itu sendiri. Efikur yang membuat rumusan klasik teodice sejaman dengan pengarang buku Ayub dari Kitab Suci Yahudi. Rumusan ini menunjukkan sebuah dilema yang dihadapi apabila orang mempertahankan Allah di satu pihak dan tidak menutup mata dan mulut terhadap penderitaan di lain pihak. “Rumusan tersebut berbunyi: Atau Allah mau mengatasi malum tetapi Dia tidak dapat melakukannya, atau Dia dapat tetapi tidak mau melakukannya, atau Dia tidak dapat dan juga tidak mau melakukannya. Apabila Dia mau tetapi tidak dapat, maka Dia lemah, sesuatu yang tidak cocok untuk Allah. Kalau Dia dapat tetapi tidak mau, maka Dia jahat dan ini pun seharusnya asing dari Allah. Kalau Dia tidak mau dan tidak dapat, maka Dia sekaligus jahat dan lemah dan karena itu juga bukan Allah. Tetapi kalau Dia dapat dan mau, hal yang memang patut untuk Allah, darimana asal malum dan mengapa Dia tidak meniadakannya?.”1

Iman Israel adalah iman yang lahir dari karya-karya Allah, sehingga melalui karya yang nyata dalam sejarah, sifat-sifat akan Allah didefinisikan. Iman kepada Allah bukan eskpresi semata, tetapi nyata dalam sejarah. Ia benar Mahakuasa, Mahaadil, Mahabaik dan sebagainya. Maka ketika terjadi ketidakadilan, penindasan, bencana-bencana lainya, orang-orang Israel berani mengugat Allah, berani mempertanyakan akan keberadaan Allah, tidak hanya diam.

Menempatkan Allah pada posisinya adalah yang patut dipertimbangkan. Hal ini memberi implikasi bagi kita untuk tidak jatuh ke dalam ekstrim teodice. Adalah lebih bijak bila kita mencoba memahami sifat-sifat Allah itu nyata dan bukan hanya sebuah ekspresi iman semata. Manusia sudah hakekatnya bergumul dengan penderitaan dan manusia tidak punya kuasa untuk menaklukan kekuatan alam semesta di mana ia ditempatkan, meskipun demikian, Allah selalu hadir di dalam penderitaan manusia, sebab ketika manusia mampu untuk bertahan dalam penderitaan, berani membela orang-orang tertindas, memperjuangkan hak-hak orang miskin dan ketika adanya kepedulian dari sekelompok kaum dermawan, dan sebaginya, itu semua adalah karya Allah, itu semua mencerminkan sifat-sifat Allah.

Tidak sedikit orang yang salah dalam memahami sifat-sifat Allah dan akhirnya meninggalkan kepercayaannya kepada-Nya. Sejarah gereja memperlihatkan Marcion, yang memisahkan Allah PL dan PB, dalam perkembangan kekritenan selanjutnya muncul Charles Templeton, yang akhirnya menjadi atheis dan banyak contoh lainnya.

Kita tidak perlu membela Allah, sebab Ia sendiri tidak membutuhkan pembelaan kita, atau pun kurangnya pembela. Ia bukan seperti seorang pemimpin lalim yang tidak bisa “dikritik dan diganggu-gugat”, karena kita telah mengurung Allah dalam doktrin dan dogma yang sempit dan fanatisme. Allah lebih dari apa yang doktrin dan dogma kuno ajarkan.
Wajar bila manusia mempertanyakan kembali akan sifat-sifat Allah tersebut ketika terjadi penderitaan, sebab itu adalah bukti kesungguhan imannya kepada Allah, dan itulah iman. Sebab ketika manusia takut mempertanyakan akan sifat-sifat Allah, imannya patut dipertanyakan, jangan-jangan telah menjadi suam atau terlalu fokus ke surga nan jauh, sehingga tidak ada lagi rasa empati terhadap penderitaan sesama.



Catatan singkat:
Teodice (theodicea) berasal dari ungkapan Yunani: theos yang berati Allah, dan dike yang berarti keadilan, atau pembenaran atau pembelaan dalam sebuah proses pengadilan. Teodice berarti pembelaan Allah.

Malum adalah keburukan yang menyebabkan orang merasa menderita atau yang menyebabkan penderita.

Senin, 15 Februari 2010

KORUPSI DITINJAU DARI SUDUT PANDANG PERJANJIAN LAMA



Penulis:
Devi Siskawati Sembiring, Edi P. Labang
& Hotma Sitompul


Pendahuluan
Fakta dari berbagai penelitian dan evaluasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga berbeda, justru menunjukkan kecenderungan yang semakin memprihatinkan, serta pada umumnya penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan, bahwa “Indonesia merupakan salah satu negara paling korup di dunia”. Marwan Effendy, mengatakan bahwa tingkat korupsi di Indonesia tetap tinggi, bahkan meningkat setiap tahunnya. "Dengan demikian, instrumen pidana, meskipun dengan sanksi yang tajam, belum mampu menanggulangi korupsi jika akar masalahnya tidak dibenahi," Ia menjelaskan, meskipun kepolisian, kejaksaan dan KPK semakin giat memberantas korupsi, namun tingkat korupsi tetap tinggi (www.analisadaily.com) . Itulah fakta yang ada, fakta yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua, mengapa korupsi semakin merajalela di bangsa kita ini. Maka melalui tulisan ini akan diperlihatkan pandangan PL tentang korupsi, sehingga dengannya kita dapat mengerti apa kata PL tentang korupsi itu sendiri, dan bagaimana dampak-dampak korupsi tersebut.

Istilah Korupsi Dalam Perjanjian Lama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan dalam bentuk-bentuk yang serupa lainnya. Dalam Kamus Bahasa Indonesia istilah tersebut mengarah pada tindakan penyelewengan uang atau penerimaan sogok yang terkait dengan kewenangan atau jabatan seseorang.
Dalam Perjanjian Lama dikenal beberapa kata sekaligus yang mengacu kepada suap. Pertama, syokhad yang mulanya hanya ‘pemberian’ atau ‘persembahan’. Dalam Yesaya 1:23 maupun dalam Yesaya 5:23 sering menggunakan kata ini, yang berarti suatu hadiah yang dipergunakan untuk menyuap seseorang. Kedua syalmonim yang mulanya menunjukpada bayaran yang diberikan kepada seorang hakim atas pelayanan yang ia berikan (Wildberger, 1991: 66). Ketiga, mattanah yang berarti pemberian atau persembahan.

Pandangan Kitab-kitab PL Tentang Korupsi

Kel. 23:1-9 & Ul. 16:18-20
Hukum Musa dengan jelas melarang adanya praktis suap. Khususnya dalam lingkungan pengadilan. Keluaran 23:1-9 dan Ulangan 16:18-20 yang memberikan tata aturan dalam pengadilan melarang para hakim untuk menerima suap, karena “suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar” (Kel 23:8). Peran hakim dalam pengadilan adalah menengakan keadilan. Keadilan seharusnya menjadi landasan bagi seorang hakim untuk memutuskan perkara; menyatakan yang benar bagi yang benar dan menyatakan salah bagi orang yang salah. Karena peran hakim sebagai penegak keadilan, mereka harus berusaha untuk mematahkan segala usaha yang dilakukan untuk membengkokkan keadilan dan mejaga agar diri mereka tetap berpegang pada keadilan. Suap membuat orang mengabaikan keadilan. Orang yang terlibat dalam dalam perkara dan tidak mempunyai uang untuk menyuap hakim, harus menjadi korban keputusan yang tidak adil.

Yesaya 1;21-23
Pada abad ke-8 sM, timbullah zaman yang makmur bagi Negara-negara Timur Tengah, termasuk Israel, oleh karena letaknya yang strategis untuk lalu-lintas perdagangan. Kekayaan harta materil yang dimiliki oleh para pemimpin di Israel sayangnya disalahgunakan dalam ibadah mereka yang penuh kemunafikan. Nabi mengejam para pemimpin kota, hakim, pejabat kerajaan, yang seharusnya menegakkan keadilan melalaikan tanggung jawab mereka sendiri dan untuk kekayaan mereka sendiri. Karena tingginya tuntutan hidup orang berloba-lomba untuk menghalalkan segala cara. Banyak perambasan hak milik, tanah, dan membungakan uang yang begitu tinggi sehingga orang miskin datang kepada hakim untuk meminta keadilan agar mereka mendapatkan hak mereka sendiri tetapi tidak berhasil, karena orang kaya yang punya uang mampu memberikan suap kepada hakim sehingga perkara mereka bisa menjadi menang. Tambahan lagi keputusan hakim dianggap benar dan tidak bisa diganggu gugat, kebiasaan hakim juga yang hidup berfoya-foya membuat para hakim ini ahli membuat minuman campur minuman keras. Sehingga untuk mendapatkan uang mereka memenangkan perkara orang fasik. Dan meloloskan perkara orang yang telah memberi suap kepada mereka.

Amos 5:7, 10-12
Amos muncul sebagai nabi di kerajaan Utara. Ia memprotes terhadap buruknya keadilan sosial Israel, ia mengatakan bahwa bangsa Israel telah menjual orang benar karena uang, artinya di Israel telah terjadi penjualan manusia, maupun anak-anak untuk menjadi budak pengganti utang. Orang yang menjadi budak karena tertawan di medan perang atau melalui proses hukum, yaitu untuk menebus utang mereka dijual untuk sejumlah uang. Orang kaya menindas orang miskin, para pejabat pemerintahan mengotrol tidak hanya spekulasi tanah dan proses pengadilan, mereka mengecilkan takaran padi dan menambah berat yang dipakai untuk menentukan beberapa banyak uang yang harus dibayar oleh seorang pembeli.


Kesimpulan Teologis

1.Kasus penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, merampas dan menindas hak orang lemah serta memutarbalikan kebenaran, kesenjangan sosial (yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin tambah miskin), semuanya itu adalah KORUPSI menurut kitab-kitab PL di atas.
2.PL sangat memberi perhatian yang serius terhadap keadilan sosial, khususnya dalam lingkungan pengadilan (Kel. 23:1-9; Ul. 16:18-20). Dari penjelasan di atas sudah jelas bagi kita untuk apa semua peraturan dan hukum diberikan kepada umat Allah. Selain sebagai respon terhadap perbuatan penyelamatan, penebusan, dan kasih Allah, juga untuk memelihara persekutuan dengan Allah. Juga memelihara kehidupan yang suci, baik, yang selamat, yang adil, yang benar dihadapan Allah. Tujuan yang lain ialah agar umat tidak berlaku kejam, lalim; tidak menindas sesama; tidak berlaku tidak adil terhadap sesama dan lingkungan.
3.Faktor dominan penyebab terjadinya korupsi di dalam PL, sangat berkaitan erat dengan faktor politik dan kekuasaan. Hakim sebagai penegak keadialan, telah menyalahgunakan kekuasaan dan menghalalkan segala cara demi kepentingan diri. Hal ini sangat relevan dengan konteks bangsa di mana kita berada saat ini, di mana survey membuktikan bahwa sekitar 85% dari kasus-kasus korupsi yang terjadi di daerah ternyata dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, terutama di lembaga pemerintahan (Eksekutif) dan lembaga Legislatif. Dengan modus yang dilakukan pun sangat beragam, mulai dari perjalanan dinas yang fiktif, penggelembungan dana APBD maupun cara-cara lainnya yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri, kelompok maupun golongan, dengan menggunakan dan menyalahgunakan uang negara (www.analisadaily.com).
4.Ketidakadilan sosial yang sama dengan korupsi, dapat menjadikan orang budak di negara sendiri maupun di negara orang lain. Ini membuktikan bahwa faktor penegakan hukum yang masih lemah, mental aparatur, kesadaran masyarakat yang masih rendah, dan `political will.` (www.Kapanlagi.com). Hal ini terbukti dengan maraknya kasus-kasus TKI maupun TWK yang mencari nafkah dan menjadi ”budak” di negeri lain, sebab bukankah negara ini ”kaya dan subur” (nyanyian Kidung Jemaat No. 337. Betapa Kita Tidak Bersyukur).

Jelas bahwa PL memandang negatif tindakan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, merampas dan menindas hak orang lemah serta memutarbalikan kebenaran, kesenjangan sosial (yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin tambah miskin), semuanya itu adalah KORUPSI , karena bertentangan dengan nilai-nilai kerajaan Allah, di mana di dalamnya ada kasih, sukacita, damai sejahtera dan penghargaan akan kehidupan yang sangat tinggi. Potret Kerajaan Allah merupakan wujud dari nilai-nilai kerajaan Allah itu sendiri, maka prilaku yang kejam, lalim; menindas sesama; berlaku tidak adil terhadap sesama dan lingkungan, termasuk KORUPSI itu sendiri, bukanlah termasuk di dalamnya.

Kamis, 28 Januari 2010

Sebuah Refleksi: Berteologi Secara Holistik



Mempertanyakan akan kesanggupan Yesus dalam mujizat-Nya, bukanlah sesuatu yang tabu bila dihadirkan pada masa kini, karena hal itu merupakan sebuah refleksi atau pun pergumulan iman, bukan pula suatu keragu-raguan yang dapat dinilai secara kasat mata.

Menghadirkan Yesus teks dengan Yesus yang kita kenal dalam teologi dan konteks kita memang membutuhkan suatu perenungan yang mendalam, sehingga kita pun tidak terjebak memperalat teks kitab suci (meskipun tidak kita keramatkan) atau pun kitab-kitab lainya sebagai cara kita untuk membenarkan telogi kita yang kadang terlalu subjektif dan terburu-buru dalam menaggapi dan meresponi keadaan zaman.

Dalam konteks kemiskinan misalnya; seorang teolog mengatakan” Tetapi patut sangat disesalkan, di tengah kenyataan kemiskinan dan kelaparan global yang dahsyat ini, 5000 ketul roti malah sekarang ini celakanya dihabiskan hanya oleh 5 orang dewasa Kristen berperut buncit bersama 2 anak mereka yang masih kecil yang terkena obesitas. Kenyataan bahwa orang Kristen sangat serakah tentu saja akan membuat banyak orang tidak bisa percaya sama sekali kalau dulu Yesus Kristus betul-betul pernah memberi makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan!” begitu tuturnya.

Cerita tentang mujizat yang pernah Yesus adakan, kini mulai disangsikan. Pengikut-pengikut Yesus pun kena getahnya. Gereja dan segala yang ada di dalamnya menjadi sasaran empuk untuk dikambinghitamkan.
Cara berteologi yang demikian sama sekali tidak dapat menjawab pergumulan zaman, meskipun kelihatan lebih pro zaman. Asumsi-asumsi negatif terlalu banyak mempengaruhi teologi yang demikian, karena bertitik tolak dari humanisme yang tidak sesuai dengan pemahaman “humanisme” zaman sekarang ini.

Gereja dan segala yang ada di dalamnya bukan tidak menggumuli keadaan zaman yang ada di sekitarnya, tetapi gereja bukan Yang Mahahadir, Mahaada; singkatnya gereja adalah bagian dari pergumulan zaman itu juga, yang sedang sama-sama berjuang untuk dapat selangkah lebih baik bagi kehidupan zaman itu sendiri.

Rasa humanis yang ada pada diri setiap pemikir Kristen bukan suatu cara untuk melampiaskan kemarahan dan kegeramannya pada objek yang dapat dijadikan kambing hitam. Humanis yang diimbangi dengan cara berteologi yang holistik tidak bertujuan mencari penyelesaian atas suatu masalah dengan mengangkat derajat yang satu dan menurunkan derajat yang lain, tetapi mencoba merangkul teks dan konteks dengan benar dan bijaksana, sehingga jalan yang dicapai dapat dipertanggung jawabkan bagi diri sendiri, sesama dan Tuhan.

Adalah lebih bijak bila melihat dan menilai faktor penyebab kemiskinan, kelaparan dan sebaginya secara holistik, sehingga dalam meresponinya pun bukan dengan cara berteologi yang memecahbelah, tetapi teologi yang holistik yang membawa kepada suatu kesimpulan yang membangun, realistis dan bersahaja.

Janganlah terlalu menimpakan segala yang terjadi dan berkembang di setiap zaman ke dalam kehidupan bergereja dan persekutuan orang-orang percaya, tetapi gunakanlah razio dalam melihatnya secara utuh. Sistem pemerintahan di suatu tempat, pergumulan suatu bangsa (misalnya korupsi, sedikitnya lapangan pekerjaan, PHK, dan sebaginya), mutlak dipikirkan dan dikritisi, bukan hanya gereja dan segala yang menyangkut tentangnya. Dengan demikian, maka itulah cara berteologi yang holistik di mana antara rasa humanis dan refleksi atas hidupnya (teologi) seimbang.

Selasa, 12 Januari 2010

Firman-Mu Pelita bagi kakiku dan Terang bagi jalanku

Pendahuluan
Pernahkah lampu listrik di rumah kita padam? Dalam kegelapan, alat penerang, salah satunya;senter sangat membantu. Bila ada seorang yang sakit keras di rumah kita, tiba waktunya dia harus meminum obatnya. Lampu listrik tiba-tiba padam!, perlu ada senter untuk berjalan ke lemari obat. Juga perlu senter untuk memilih obat yang tepat, sehingga tidak salah obat dan akhirnya bisa berakibat sangat fatal. Senter ini memberi terang dalam kegelapan, agar kita dapat melakukan itu semua.

Seorang satrawan bangsa Israel pernah menulis: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Firman Tuhan yang tertulis dalam buku ini adalah seperti senter tadi. Kita perlu membacanya dan menghafal ayat-ayat tertentu. Seperti senter tadi, Firman Tuhan akan menuntun kita dalam hidup ini. Ketika kehidupan kita terasa gelap, firman Tuhan menjadi penerang bagi kita. Itu berarti bahwa selama kita rajin membaca Alkitab dan melakukan dengan taat perintah Tuhan yang disampaikan melaluinya, percayalah, kita tak akan berjalan dalam kegelapan.

Isi
Mengapa Si Pemazmur mengatakan bahwa “Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”!

Berisi Hukum-hukum yang adil (106, 108)
Apa yang kita pikirkan, ketika kita berbicara tentang hukum?
Kita mungkin akan membayangkan sebuah situasi, di mana ada seseorang yang sedang disidangkan atau sedang diadili. Mungkin juga kita akan berpikir bahwa hukum adalah sesuatu yang jahat dan tak manusiawi, serta banyak asumsi-asumsi kita yang muncul lainnya.
Firman Allah juga berisikan hukum-hukum-Nya. Hukum Tuhan berbeda dengan hukum yang ada di dunia, hukum yang bisa dibeli dan dipermainkan, hukum yang memandang status dan kedudukan, pandang bulu dan pilih kasih. Hukum Allah adalah adil adanya. Ia mengasihi, tetapi Ia juga menghukum.
Seorang tokoh sejarah gereja yang bernama Marcion telah jatuh ke dalam kesalahpahaman, ketika ia memahami hukum-hukum Tuhan. Ia mengatakan bahwa Allah di Pl adalah Allah yang kejam, karena penuh dengan sifat-Nya yang suka menghukum. Itulah sebabnya ia menolak Allah PL dan hanya menerima Allah PB yang menurutnya penuh kasih karuni dan anugerah. Selain Marcion, ada pula seorang yang bernama Charles Templeton. Walaupun tidak setenar Billy Graham, tetapi ia sangat dikenal di kalangan orang Kristen Amerika di tahun 50-60 an. Templeton adalah seorang penginjil yang sangat terkenal, ia merintis jemaatnya dari dua belas orang menjadi beribu-ribu orang, hanya dalam waktu yang relative singkat. Singkat cerita, jemaat yang telah dihimpunnya tersebut dikagetkan dengan berita bahwa ia meninggalkan imannya dan menyangkal semua apa yang telah ia khotbahkan. Hal ini terjadi ketika ia membaca dan melihat sebuah gambar yang di dalamnya diperlihatkan seorang ibu yang mengendong anaknya yang mati karena kekeringan. Templeton sangat terharu dan menyalahkan Allah yang tidak mau menurunkan hujan pada masa kekeringan tersebut. Allah menurutnya begitu kejam. Marcoin dan Charles Templeton adalah orang yang salah dalam memahami sifat Allah. Allah adalah Allah yang adil, baik dalam kasihnya maupun dalam hukum-Nya.
Allah tidak bisa dipermainkan, apa yang ditabur orang itu yang dituainya.
Tujuan Allah memberikan hukum-hukumnya adalah agar umat-Nya, mengasihi-Nya de- ngan sepenuh hati dan hidup saling-mengasihi satu dengan yang lainnya.
Si Pemazmur dengan Hukum Tuhan ini ia bisa mengerti/tahu bagaimana mengasihi Tuhan dan sesama, kita pun seharusnya demikian pula.

Memberi Kehidupan (107)
Dalam Mazmur Daud di 2 Samuel 22:29 kita dengar: “Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku”
Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkraman semua musuhnya dan dari cengkraman Saul.
Daud menemukan kehidupannya di dalam Firman TUHAN, ia menyadari bahwa keselamatannya hanya dari pada TUHAN semata.
Daud ditindas oleh musuh-musuhnya, tetapi ia menang karena Ia tahu bahwa TUHAN memberi kemengan kepadanya.
Apa yang menindas kita pada saat ini?
Pekerjaan yang sulit, penyakit yang tak kunjung sembuh, kemiskinan, keluarga yang berantakan, dll!
Banyak orang ketika mengalami berbagai masalah tersebut, stres, frustrasi, putus asa, gila, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan kita?
Di manakah kita bisa menemukan jawaban-jawaban atas segala persoalan yang kita hadapi tersebut?
Daud menemukan jawaban atas permasalahan hidupnya adalah ketika ia membaca Taurat Tuhan, di mana di dalamnya ia tahu bahwa hanya Tuhan jawabannya. Maka jikalau Daud menemukan jawabannya ada di taurat Tuhan, Jawaban bagi kita juga hanya ada di dalam TUHAN, yakni melalui FIRMAN-Nya!
Tetapi bagaimana kita bisa tahu kalau jawaban atas masalah kita ada dalam Firman Tuhan, bila kita sendiri tidak pernah membaca Firman Tuhan itu sendiri?
“ADA BANYAK BUKU YANG DAPAT MENAMBAH PENGETAHUAN TETAPI HANYA ALKITAB YANG DAPAT MENGUBAH ANDA”
Biarlah kita juga mengatakan “Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku”

Membuat Tidak Sesat (109-110)
Pengarang Mazmur ini adalah orang bijak yang mengarang Mazmur ini pada usia tua sesudah zaman Pembuangan di Babel. Isi Mazmurnya mengambarkan kegairahanya dalam mempelajari kitab Taurat. Kalau kita melihat secara keseluruhan pasal 119 ini, ternyata Mazmur ini terdiri dari 22 bait. Tiap bait terdiri dari delapan ayat. Di tiap ayat itu ia melukiskan keindahan isi taurat yang dipelajarinya. Untuk itu dalam tiap bait ia
memakai delapan sinonim yang berbeda sebagai penganti kata Taurat: seperti kata firman, perintah, janji, ketetapan, petunjuk, titah, hukum, dan peringatan. Jadi tiap ayat yang berjumlah 176 itu semuanya berpokok tentang kitab Taurat.
Perhatikan betapa besar gairah pengarang Mazmur 119 ini untuk belajar. Berkali-kali ia berseru , “Ajarkanlah kepadaku...” (ay. 64, 66, 68 ddl), atau “Buatlah aku mengerti...” (27, 34, 125, dll).
Orang yang gemar belajar Firman Tuhan, tidak akan mudah untuk disesatkan oleh berbagai-bagai rupa pengajaran dunia yang menyesatkan. Ia memiliki dasar yang kuat untuk berpegang dalam kebenaran.
Banyak ajaran-ajaran baru muncul, ajaran-ajaran yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan (adat/tradisi yang takhyul, ajaran-ajaran nenek moyang, dll).
Firman Tuhan menuntun kepada kebenaran dan tidak membuat sesat. Paulus mengatakan bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).
Gemarlah membaca Firman Tuhan, seperti Si Pemazmur, sebab jikalau kita tidak gemar, kita akan mudah disesatkan dan diombang-ambingkan oleh berbagai-bagai angin pengajaran yang menyesatkan!!

Sumber kegirangan (111-112)
“Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati” (Mzm 119:2). Kutipan tadi menunjukkan bahwa masih sejak bagian awal dari Mazmur bacaan kita sekarang ini (Mzm 119) telah diketengahkan faedah/manfaat firman/perintah Allah: a.l. memberi kebahagiaan bagi yang menaatinya..
Pemazmur begitu cinta akan Firman Tuhan, sehingga ia mengatakan bahwa Firman Tuhan itu adalah milik pusakanya. Ia juga berkomitmen untuk setia kepada Firman Tuhan seumur hidupnya. Mengapa ia begitu cinta? Karena ia menyadari sumber kegirangan atau kebahagiaan yang sejati hanya ada dalam Firman Tuhan.
Apa yang menjadi sumber kebahagian sejati kita?
Harta, tahta (caleg), karya, nada hanyalah sumber kebahagiaan sesaat. Apalah artinya memiliki semuanya itu, bila hidup tidak bahagia dan tidak damai!
Pemazmur menyadari betul-betul hal ini, Ia adalah orang yang seorang Raja, kaya, dan terkenal; tetapi ia mengatakan bahwa harta atau milik pusakanya adalah Firman Tuhan, bukan harta, tahta dan segala-galanya. Baginya semua itu tiada artinya bila dibandingkan dengan Firman Tuhan.
Sumber kegirangan atau kebahagiaan sejati hanya ada dalam Firman Tuhan.


Aplikasi
Ketika Sir Walter Scott, seorang pengarang terbesar Inggris, berbaring menghadapi maut, ia meminta puteranya mengambilkan untuknya “buku itu”. Puteranya bertanya “buku yang mana?” yang dijawab oleh Scott “ Hanya ada satu kitab, Yaitu Alkitab!”. penghormatan kepada Alkitab semacam itu bukanlah ucapan yang bertakhyul, yang sentimental dari seorang yang bodoh. Itu adalah keyakinan dari seorang yang terdidik, cendekiawan yang cemerlang, seorang pujangga besar.
Begitu pula dengan Pemazmur, ia adalah seorang Raja, kaya dan terkemuka, tetapi Firman Tuhan baginya adalah sebagai pelita yang menerangi jalan hidupnya.
Siapakah dapat mengukur dampaknnya, seandainya kita semua sebagai orang percaya memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada ALKITAB, membacanya tiap hari, mematuhinya!
Kita telah melihat begitu banyak kesaksian pemazmur tentang Firman Tuhan, pertanyaannya adalah : Sudahkah Anda dan Saya memprioritaskan Firman Tuhan dalam kehidupan kita? Jikalau belum sekaranglah waktunya, saudara dan saya belum terlambat!

Selasa, 08 Desember 2009

Study Narasi: RESPON TERHADAP PENGAJARAN YESUS (Yohanes 7:1-8:30)



Pendahuluan
Pendekatan narasi dalam studi biblika, bisa dikatakan pendekatan yang paling ilmiah. Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan terhadap perumpamaan, di mana karakter yang membawa pesan, atau dengan kata lain, bahwa tema di bawakan oleh karakter itu sendiri. Pendekatan seperti ini sangat sistematis, dan tepat sasaran karena tema mengendalikan kemungkinan penafsiran yang bersifat meluas dan tidak terfokus, bahkan kalau dalam perumpamaan, bersifat alegoris.
Teks Yohanes 7:1-8:30 berikut ini merupakan hasil dari pendekatan narasi, dan tentunya pesan yang di dapat sangat jauh berbeda dengan pesan penafsiran yang pada umumnya.

Penelitian Naskah (Textual Criticism)
Di dalam narasi Yoh. 7:1-8:30, ada beberapa ayat yang mengalami masalah penerjemahan, di antaranya adalah Yoh. 7:1, 8, 9, 10, 36, 39, 40, 46, 52, 53- 8:11, 16, 25 dan hanya 3 di bawah ini yang dianggap penting.
7: 1 etelen {A}
Melalui kata ini kita bisa mengasumsikan bahwa di dalam beberapa bagian dari tulisan Yohanes, mengunakan kata exein eshosian e;cein evxousi,an, yang berarti “to be able” (10:18 twice; compare 19: 10 ). Terutama sekali karena pembacaan itu sendiri nampaknya telah menjadi pembacaan yang sulit. Oleh karena itu, idiom tersebut bukanlah sesuatu yang aneh bagi Yohanes, kalau hal itu bisa terjadi di tempat lain, karena etelen digunakan untuk memberi penegasan pada ayat-ayat yang sulit dalam pembacaan teks tersebut.
7:10 alla (os){C}
Dalam bagian lain, bukti-bukti luar dengan kuat mendukung pembacaan dengan mengunakan os, sejak suatu bentuk selipan kopian kata dalam bentuk perintah untuk mengurangi kesalahan dari penggunaan kata en krupto. Usaha untuk menunjukkan keseimbangan, a majority of the Committee, tetap mengunakan kata dalam teks tersebut, tetapi dengan melampirkan itu dalam square brackets untuk mengindikasikan keragu-raguan bahwa sesuatu yang benar berdiri di situ.
7:39 pneuma {A}
Kecenderungan untuk menambahkan agion keduanya bersifat alami dan tersebar luas di antara para penulis Kristen. Mengingat jika kata tersebut hadir dalam bentuk aslinya, hal itu akan menghilangkan makna aslinya. Oleh karena itu pembaca bayangan diberitahu bahwa yang Yohanes maksud dengan Roh bukanlah di dalam eksistensi sebelumnya bagi kemulian Yesus, di mana bentuk keseragaman dengan salinan pengantar modifikasi: (1) “Roh Kudus belum diberikan dedomenon (dedome,non),(2) “Roh Kudus belum diberikan atas mereka, dan (3) “ Belum datangnya Roh Kudus, “

Relasi Intratekstual
Sekilas kita membaca teks Yoh. 7:1-8:30, merupakan sutau pembacaan yang cukup panjang. LAI membagi teks yang panjang ini ke dalam 7 (tujuh) bagian perikop. Akan tetapi kalau kita meneliti teks dan mengalinya, maka akan kita temukan bahwa teks ini sebenarnya tidaklah dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian perikop, tetapi merupakan suatu kesatuan atau dengan kata lain satu perikop pembacaan, di mana judul perikopnya adalah “Respon Terhadap Pengajaran Yesus”.
Teks Yoh. 7:1-8:30, sangat berkaitan erat dengan teks-teks di atasnya (Yoh 6:1-71) dan di bawahnya (Yoh. 8:31-59) serta hubungannya dengan maksud Injil ini ditulis (Yoh. 20:30-31).
Resposn terhadap pengajaran Yesus terdiri dari alternatif; yakni percaya dan tidak percaya, dan bentuk-bentuknya yang berbeda. Dalam Yoh. 6:1-71, sangat nampak bagaimana respon banyak orang, baik secara individu maupun secara kolompok, terhadap pengajaran Yesus. Ada yang percaya penuh, ada yang ragu-ragu dan ada pula yang tidak percaya sama sekali. Bentuk-bentuk respons tersebut juga nampak dalam teks yang ada di bawahnya (Yoh. 8:3-59), di situ diperlihatkan bagaimana respon orang yang sukar sekali percaya pada pengajaran Yesus (orang-orang Yahudi).
Reposn terhadap pengajaran Yesus memang begitu eksplisit ditampilkan oleh penulis Injil Yohanes. Ia senganja menampilkan berbagai bentuk karakter dalam meresponi pengajaran Yesus. Ada yang percaya, cepat percaya, ragu-ragu, ada yang butuh proses dan ada pula yang tidak percaya sama sekali. Dan di sisnilah sangat nampak bahwa teks ini merupakan satu kesatuan dengan teks-teks sesudah dan sebelumnya bahkan tujuan dari penulisan Injil ini.

Disain Literer
Di atas sudah di jelaskan bahwa teks Yoh. 7:1-8:30 merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan atau dengan kata lain terdiri dari satu judul perikop, yakni Respon terhadap pengajaran Yesus. Ada pun disain literarnya adalah sebagai berikut:
a.7:1-13 : Yesus dan Saudara-saudara-Nya pergi mengikuti hari raya Pondok Daun
b.7:13-44: Pengajaran Yesus dan respon terhadap otoritas pengajaran-Nya
c.7:45-53: Perdebatan mengenai Hukum Taurat, sebagai respon terhadap pengajaran Taurat menurut Yesus
d.8:1-30: Respon terhadap hal menghakimi menurut pengajaran Yesus

Dari Disain Literer di atas, nampak bahwa Yesus dalam pengajaran-Nya, berhadapan dengan sekelompok orang yang meragukan dan menolak untuk percaya pada pengajaran-Nya. Dalam merespon pengajaran Yesus, mereka mengunakan berbagai bentuk, di antaranya, ada yang percaya bila Ia berani menunjukkan keahlian-Nya, ada yang menolak mentah-mentah dengan berdebat, ada yang menanfaatkan orang lain untuk mencari kelemahan pengajaran-Nya bahkan ada di antara mereka berdiskusi kembali tentang makna Taurat, untuk membenarkan diri terhadap pengajaran Yesus yang dianggap menyesatkan.

Latar/Setting
Dalam narasi ini, ada tiga latar/setting yang perlu kita perhatikan, yakni:
A. Latar Spasial (Tempat)
Yesus berjalan keliling Galilea, hal ini dikarenakan di Yudea, orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya (7:1). Yesus dan saudara-saudara-Nya pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun (7:10). Di Yerusalem Yesus mengajar di Bait Allah (7:14, 28; 8:2, 20). Sementara para imam dan orang-orang Farisi terus mendebatkan pengajaran Yesus waktu di bait Allah (sebagai respon mereka apakah pengajaran-Nya itu benar), mereka menemukan janlan buntu dan akhirnya kembali ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun, di mana bukit tersebut merupakan rangkaian dari 4 puncak bukit mini. Puncak tertinggi 830 m, dari mana dapat memandang ke bawah ke Yerusalem dan Bait Allah bagian sudut timur malalui lembah Kidron dan kolam Siloam. Seluruh kawasan bukit itu aman, maka tidak heran bahwa di tengah-tengah hiruk-pikuk dan ketegangan-ketegangan yang terjadi, Yesus pergi ke tempat yang aman tersebut untuk berkomunikasi dengan Bapa-Nya atau pun untuk beristirahat.
B. Temporal (waktu)
Ketika hari raya pondok daun hampir tiba (ini mengindikasikan bahwa saudara-saudara Yesus pergi ke Yerusalem beberapa hari atau satu hari sebelum perayaan dimulai), saudara-saudara Yesus pergi ke Yerusalem (7:2), tetapi sesudah (sebab Yesus pergi ke Yerusalem pada hari di mana perayaan itu dimulai), saudara-saudara-Nya berangkat, Yesus yang tadi-Nya belum mau, akhirnya berangkat juga, sebab Ia mempunyai rencana dan maksud yang lain dari saudara-saudara-Nya. Peristiwa perayaan tersebut, menurut tradisi Yahudi, dilaksanakan selama tujuh hari (7:10-53), selama perayaan itu berlangsung, Yesus terus-menerus mengajar dan Ia juga mendapat berbagai respon terhadap pengajaran-Nya tersebut. Akan tetapi sesudah perayaan tersebut pun Ia tetap mengajar di Bait Allah (8:2), Ia tetap menghadapi respon negatif terhadap pengajaran-Nya, tetapi cerita ini berakhir dengan respon happy ending, di mana dikatakan ”Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya” (8:30).
Jadi peristiwa dalam teks ini berlangsung sebelum dan sesudah perayaan hari raya pondok daun.
C. Kultural(budaya)
Dalam narasi ini salah satu latar/setting kultural yang nampak adalah perayaan hari raya pondok daun. Dalam bahasa Ibrani disebut dengan istilah khag hasukkot (Im. 23:24; Ul. 16:13) atau khag ha’asif (Kel. 23:16; 34:22). Salah satu dari tiga pesta besar Yahudi, yang dirayakan dari tanggal 15-22 bulan ketujuh. Inilah akhir tahun ketiga panen dituai, dan merupakan salah satu dari pesta ketika setiap lelaki harus muncul di hadapan Tuhan (Kel. 23:14-17; 34:23; Ul. 26:16). Pesta itu sangat meriah (Ul. 16:14). Nama ”Hari raya Pondok Daun” berasal dari kebiasaan bahwa setiap orang Israel harus diam di pondok yang dibuat dari cabang dan daun selama tujuh hari pesta itu (Im. 23:42)
Yesus tidak menolak kebudayaan dalam memberitakan pengajaran-Nya, tetapi Ia memakai kebudayaan tersebut sebagai alat untuk memberitakan Injil-Nya. Ia tahu kapan waktu yang tepat untuk pergi dan menghadiri pesta tersebut. Karena waktu-Nya bukan waktu saudara-saudara-Nya dan lain-lain, sebab Ia mengatakan bahwa waktunya belum tiba (7:6)
Dari ketiga bentuk Latar/setting di atas dapatlah kita simpulkan bahwa respon terhadap pengajaran Yesus sangat nampak secara eksplisit dipaparkan dalam teks Yoh. 7:1-8:30. sebelum dan sesudah perayaan tersebut berlangsung, berbagai bentuk respon kita temukan, yang pada dasarnya penuh dengan ketidakpercayaan. Akan tetapi sekali lagi, bahwa cerita ini berakhir dengan respon happy ending, di mana dikatakan ”Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya” (8:30).

Narator dan Sudut Pandang
Uraian narator dan sudut pandang narator dalam narasi Yoh. 7:1-8:30 hendak menguraikan berbagai respon terhadap pengajaran Yesus. Dalam teks tersebut, narator hadir dalam bentuk orang ke-3 tunggal dan tidak berbicara secara langsung. Kehadiran narator muncul dalam 7:1, 2, 5, 9, 10, 11a, 12a, 13, 14, 15a, 16a, 20a, 21a, 25a, 28a, 30, 31a, 32, 40a, 43, 44, 50, 53; 8: 1, 2, 3, 4a, 6, 7a, 8, 9, 20, 27, 30. Peran narator dalam teks ini, sangat dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa narator ingin menekankan bagaimana respon karakter-karakter tersebut terhadap pengajaran Yesus. Setiap respon yang diberikan oleh para pendengar, ia jelaskan dengan begitu lengkap, sebab di sini ia maha tahu dan maha hadir. Penekanannya jelas, yakni respons terhadap pengajaran Yesus.

Karakter dan Karakterisasi
Dalam teks Yoh. 7:1-8:30 ada beberapa karakter dan karakterisasi yang nampak, di antaranya adalah:
a.Yesus
Tema yang dibawakan oleh karakter Yesus adalah ”Yesus Sang Guru Agung”. Karakter Yesus sebagai Sang Guru Agung, secara eksplisit diceritakan dalam teks ini (7:14, 16-19, 21-24, 28-29, 33-34, 37-39; 8:12, 14-21, 23-30).
Pengajaran-Nya selalu di salah pahami dan sulit untuk dimengerti sehingga menimbulkan berbagai respon yang sangat kontroversi, bahkan nyawa-Nya pun terancam (7:1, 12-13, 20, 25-27, 30, 40-44). Yesus sebagai Sang Guru Agung berani menyatakan kebenaran di tengah-tengah bahaya yang mengancam-Nya. Ia selalu bersikap tenang dan tegas dalam menyikapi respon orang yang yang mendengar pengajaran-Nya.
b.Saudara-saudara Yesus
Tema yang dibawakan oleh karakter Saudara-saudara Yesus adalah ”Inisiatif yang keliru”. Inisiatif mereka untuk Yesus yang keliru, muncul dari ketidakpercayaan. Mereka berinisiatif agar Yesus pergi ke Yudea, agar bisa terkenal (7:3-4). Yesus mengerti bahwa mereka tidak percaya kepada-Nya dan Ia hanya mengatakan kepada mereka bahwa waktu-Nya belum tiba (7:6-8).
c.Orang-orang Yahudi
Tema yang dibawakan oleh Orang-orang Yahudi adalah ” Mencari-cari kesalahan”. Sikap mereka yang suka mencari-cari kesalahan, terutama dalam hal pengajaran Yesus, sangat nampak dari sikap reaktif mereka yang negatif, serta respon mereka yang selalu memperdebatkan pengajaran-Nya, yang pada akhirnya selalu bersikap ingin membunuh Yesus (7:1b).
d.Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat
Tema yang dibawakan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah ”Mencobai”. Mereka selalu mencari-cari kesalahan Yesus, yang pada akhirnya bisa menjadi bukti bagi mereka untuk membunuh Yesus. Banyak hal yang mereka gunakan untuk menjatuhkan Yesus, mulai dari memerintahkan para penjaga (7:32, 45, 47) bahkan samapai dengan membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah (8:3-7b), akan tetapi Yesus tahu apa maksud dan tujuan jahat mereka.
e.Orang Banyak
Tema yang dibawakan olah karakter orang banyak adalah ”Pertentangan”. Pengajaran Yesus mereka respon dengan pertentangan antar sesama dari mereka. Ada yang pro dan kontra (7:40-44). Respon mereka lahir dari ketakjuban mereka akan Yesus dalam pengajaran-Nya.
f.Nikodemus
Tema yang dibawakan oleh Nikodemus adalah ”Sok Tahu”. Nikodemus dinilai sebagai orang yang sok tahu dalam teks naras ini (7:52). Sebenarnya sikap Nikodemus adalah baik adanya, karena ia ingin menunjukkan kebenaran yang esensi menurutnya terhadap pemberitaan taurat (7:51), akan tetapi ia tidak dianggap dalam komunitasnya yang sedang memperdebatkan pengajaran Yesus.
g.Perempuan yang Berzinah
Tema yang dibawakan oleh karakter perempuan yang berzinah adalah ”ketidakberdayaan”. Ia dibawa ke hadapan Yesus sebagai ”kelinci percobaan” untuk mencari kesalahan Yesus (8:3-6). Sikap tidak berdaya ini muncul karena memang ia kedapatan telah melakukan zinah, sehingga ketika ia hendak diperhadapkan kepada Yesus untuk diadili, ia bersikap pasrah. Yesus menolong dia dari ketidakberdayaannya, dengan membebaskannya serta mengampuni dosa zinahnya (8:9-11).

Plot
Sesuai dengan tujuan Injil Yohanes (20:23), mengarahkan pembacanya supaya percaya kepada Yesus. Banyak contoh karakter yang digunakan penulis Injil Yohanes untuk memperlihatkan respons, proses dan bentuk-bentuk percaya kepada Yesus. Saudara- saudara Yesus, inisiatif mereka untuk Yesus yang keliru, muncul dari ketidakpercayaan. Orang-orang Yahudi, suka mencari-cari kesalahan, terutama dalam hal pengajaran Yesus. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, selalu mencari-cari kesalahan Yesus, yang pada akhirnya bisa menjadi bukti bagi mereka untuk membunuh Yesus. Orang banyak, timbul pertentangan antar sesama dari mereka. Nikodemus dinilai sebagai orang yang sok tahu. Perempuan yang berzinah, ia dibawa ke hadapan Yesus sebagai ”kelinci percobaan” untuk mencari kesalahan Yesus.
Melalui teks ini, penulis ingin memperlihatkan bagaimana respon orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus yang adalah sebagai pengajar. Ada yang tidak percaya, mencari-cari kesalahan, ingin membunuh, timbul pertentangan, ada yang sok tahu, serta ada yang dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Literary Device/ Tafsir Implisit
Di dalam narasi Yoh. 7:1-8:30, ada dua taktik literar yang ditemukan, yakni kesalahpahaman (misunderstanding) dan simbol. Respon karakter-karakter di atas yang salah akan pengajaran Yesus, lahir dari kesalahpahaman mereka dalam memahami pengajaran Yesus. Masing-masing karakter menunjukkan bentuk-bentuk kesalahpahaman mereka terhadap pengaran Yesus, sehingga muncul pertentangan baik antar sesama diri mereka sendiri, maupun dengan Yesus sebagai pengajar, yang hampir-hampir merenggut nyawa-Nya.
Dalam Yoh. 7:38 di situ kita menemukan penggunaan simbol oleh Yesus. Istilah yang digunakan di situ adalah potamoi ek tes koilias autou peusousin udatos zontos potamoi.LAI menerjemahkan dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Udatos zontos ( to live) diterjemahkan sebagai air hidup, dengan kata dasarnya udor zon. Tidak hanya orang banyak yang tidak mengerti tentang simbol tersebut, tetapi perempuan Samaria dalam Yoh. 4, juga tidak mengerti akan makna simbol tersebut. Narator di dalam ayat 39 menjelaskan tentang makna simbol tersebut, yakni Roh; ”Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.” (7:39).

Tema-tema
Respon terhadap pengajaran Yesus yang ”kontroversial” terus berkembang sampai saat ini. Dalam hal ini, Gereja meneruskan misi Kristus, meneruskan pengajaran Kristus. Gereja hadir di tengah-tengah bermacam-macam suku, ras dan kebudayaan yang beraneka ragam. Pengajaran gereja juga menjadi kontoversi, di mana ada orang yang tidak menerima, ragu-ragu bahkan ingin dan telah dan akan menghancurkan dan membumihanguskan gereja. Bagimanakah sikap gereja dalam menyikapi hal ini? Dan bagaimana cara gereja agar tetap meneruskan pengajaran Kristus? Salah satunya adalah dengan jalan kontekstualisasi, di mana hal ini merupakan suatu kesadaran dari setiap orang yang memberitakan Injil Kristen selalu berupaya menyajikan berita Injil dengan istilah-istilah yang dapat dipahami oleh pendengarnya, karena para pemberita Injil dari segala masa menghadapai masalah inkulturasi mereka sendiri, dan juga masalah adat-istiadat, bahasa dan sitem kepercayaan bahkan kebudayaan-kebudayaan yang sudah mendarah daging dalam sutu masyarakat tertentu dalam setiap konteks tertentu di dunia ini.
Setiap orang yang memberitakan Injil Kristen selalu berupaya menyajikan berita Injil dalam istilah-istilah yang dapat dipahami oleh pendengarnya. Dalam usaha kontekstualisasi ini, ada dua bahaya yang mungkin timbul dan harus dihindari:
1.Pemberita berpikir bahwa berbagai warisan dari budayanya adalah bagian terpadu dari berita Injil; dan
2.Pendengar menambah kepada Injil beberapa unsur dari budayanya, sehingga mengubah dan menghapus segi-segi hakiki dari Injil itu.
Akan tetapi ada juga bahaya-bahaya lain yang sangat perlu diperhatikan dalam usaha mengkontekstualisasikan berita Injil, yakni: Bahaya pertama adalah bahwa bila kontekstualisasi tidak dilakukan, teologi akan menjadi tidak relevan; yang kedua adalah bahwa bila kontekstualisasi dilakukan dengan terlalu bersemangat, maka akan terjadi kompromi dan sinkretisme. Sebaiknya dalam memberitakan Injil kita harus mengunakan bentuk-bentuk budaya yang cocok untuk pelayanan Kristus, asal saja Injil itu tidak disangkal. Bila ini tidak dilakukan ada kemungkinan bahwa hanya lapisan-lapisan permukaan budaya yang akan diubah, bukan lapisan-lapisan yang dalam. Namun karena dalam kontekstualisasi kita selalu mengunakan bentuk-bentuk linguistik dan budaya pribumi, maka upaya ini selalu mengandung resiko, maka akan terjadi sinkretisme budaya dan agama. Piihan satu-satunya yang mungkin dalam menghadapi kedua bahaya ini, adalah kontekstualisasi yang setia baik terhadap budaya pribumi maupun kepada kewibawaan Alkitab. Artinya seberapa jauh suatu usaha kontekstualisasi dapat dinilai memadai dan autentik, diukur oleh tingkat kesetiaannya dalam mencerminkan makna Alkitab.
Adalah tugas seluruh umat Allah, terutama para gembala dan teolog, untuk dengan bantuan Roh Kudus mendengarkan, membeda-bedakan dan menafsirkan bermacam-macam bahasa jaman kita, kemudian mengartikannya dalam terang Sabda Ilahi, agar kebenaran yang diwahyukan selalu ditangkap lebih mendalam, dipahami lebih baik dan diwartakan lebih tepat.” Yang harus diingat adalah bahwa Amanat Agung harus digenapi agar dunia mendengar Injil; penginjilan dunia mencakup pemberitaan Injil dengan cara yang dapat dimengerti dan bila Injil itu tidak dimengerti, harus ada kontekstualisasi. Pada satu pihak hasil kontekstualisasi itu harus cocok dengan berita Alkitab sendiri, dan pada pihak lain harus dikaitkan dengan latar belakang budaya, bahasa dan agama penerima.

Rancangan Khotbah
Tema: Menyingkapi Pengajaran Yesus
Isi :
1.Gereja adalah bentuk konkrit dari pengajaran Yesus
2.Kontekstualisasi adalah jalan yang tepat untuk menerapkan pengajaran Yesus pada masa kini


Daftar Pustaka

Metzger Bruce M. , A Textual Commentary on the Greek New Testament. 3 ed. (Stuttart: United Bible Societies, 1998),

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (YKBK/OMF, Jakarta 2004)

Hesselgrave David J. , dalam Kontekstualisasi (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2009)